Belakang Padang Surganya Ikan Dingkis, Pembawa Hoki di Imlek 2025

Belakang Padang | Keindahan perairan di Kota Batam tak hanya menyuguhkan pemandangan eksotis, tetapi juga menjadi rumah bagi ikan dingkis. Tiga pulau yang berada di Kota Batam yakni Pulau Belakang padang, Pulau Kasu dan Pulau Pecong dikenal sebagai habitat ikan dingkis terbaik.

Tiga pulau ini menjadi pusat penangkapan ikan dingkis, terutama menjelang Imlek. Namun, nelayan menghadapi tantangan lain dalam perburuan ini, yaitu ancaman buaya yang lepas dari penangkaran. Meski demikian, permintaan akan ikan dingkis tetap tinggi karena ikan ini hanya muncul dalam jumlah banyak setahun sekali. Bagi masyarakat Kepri khususnya Kota Batam berburu ikan dingkis menjelang Imlek adalah bagian dari tradisi tahunan yang menyimpan banyak makna. Selain membawa hoki, ikan ini juga menjadi simbol kebersamaan, yang dinikmati bersama keluarga besar saat momen istimewa tiba.

Di tengah kemeriahan menyambut Tahun Baru Imlek 2025, ada satu tradisi unik yang hanya ditemukan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), yaitu menyantap ikan dingkis. Ikan ini menjadi primadona di kalangan masyarakat Tionghoa, khususnya saat Imlek, karena diyakini membawa keberuntungan atau hoki.

Tak heran, setiap tahun menjelang Imlek, ikan dingkis selalu menjadi buruan masyarakat. Ikan ini bukan hanya sekadar hidangan, tetapi simbol keberuntungan dan keabadian hidup.

Dalam tradisi Tionghoa, ikan disebut “Yu” atau “Yoo” dalam bahasa Mandarin, yang pelafalannya mirip dengan kata keberuntungan. Ikan dingkis adalah sebutan orang-orang di Kepri untuk ikan baronang susu, yang memiliki keunikan pada cairan putih yang keluar seperti susu saat bagian bawah tubuhnya ditekan.

Ikan ini tumbuh subur di perairan yang kaya akan terumbu karang dan rumput laut yang menjadi makanannya. Yang paling spesial, ikan dingkis yang bertelur dipercaya membawa keberuntungan sepanjang tahun, dan ini menjadikannya semakin diminati.

Menjelang Imlek, perburuan ikan dingkis di perairan Kepri meningkat drastis. Dengan harga yang bisa melambung hingga Rp1 juta per kilogram, terutama untuk ikan yang sedang bertelur, nelayan berlomba-lomba menangkap ikan ini.

Fauzan, seorang nelayan dari Pulau Kasu, Batam, mengungkapkan bahwa mereka telah bersiap sejak awal bulan, memperbaiki kelong perangkap ikan tradisional untuk menangkap ikan dingkis.

“Menjelang Imlek, kami selalu perbaiki kelong, berharap ikan dingkis akan masuk,” kata Fauzan.

Sementara itu, Saiful, nelayan dari Belakang Padang, mengaku semakin sibuk memasang kelong menjelang Imlek karena harga ikan dingkis yang terus naik.

“Ikan dingkis yang mahal itu yang sedang bertelur, baunya juga tidak amis. Biasanya hanya ada saat Imlek,” tambahnya.

Ikan dingkis yang diambil dari kelong memiliki kualitas lebih baik, karena tubuhnya tidak rusak dibandingkan dengan hasil tangkapan jaring. Perburuan ikan ini memang memerlukan sedikit keberuntungan, seperti yang diungkapkan Saiful,

“Kadang bisa dapat sampai 10 kilogram, kadang juga tidak dapat sama sekali.”

Saat perayaan Imlek, ikan dingkis menjadi menu utama bagi masyarakat Tionghoa di Kepri. Ikan ini dimasak dengan berbagai cara, mulai dari dibakar, diolah dengan bumbu asam pedas khas Melayu, hingga dikukus bersama rempah-rempah. Tak ada pantangan dalam mengolah ikan ini, yang penting disajikan dalam keadaan utuh sebagai simbol keberuntungan.

Menurut Johan, seorang warga Tionghoa, menikmati ikan dingkis saat Imlek adalah tradisi yang hanya ada di Kepri.

“Ikan dingkis yang bertelur hanya muncul di Kepri saat Imlek, di provinsi lain tidak ada,” jelasnya.

Johan menambahkan, keunikan ikan ini membuat momen menyantapnya bersama keluarga semakin istimewa.

Bagi masyarakat Tionghoa di Kepri, makan ikan dingkis saat Imlek bukan sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari harapan akan keberuntungan sepanjang tahun. Ikan ini dianggap sebagai pembawa berkah, terutama ketika disajikan dalam keadaan utuh dan bertelur.

Johan menjelaskan, dalam budaya Tionghoa, ikan simbolkan kemakmuran.

“Nien nien you yui,” kata dalam bahasa Mandarin yang artinya “setiap tahun ada sisa,” di mana kata “yui” juga berarti ikan.

Ini menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat Tionghoa di seluruh dunia selalu menyantap ikan saat Imlek. Tradisi makan ikan dingkis ini tak hanya diikuti oleh warga lokal, tetapi juga mereka yang berada di luar Kepri. Banyak yang memesan ikan ini menjelang Imlek, meskipun tidak semua beruntung bisa mendapatkannya. “Memang bukan wajib, tapi sayang kalau dilewatkan,” ujar Johan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *